Bali Sebagai Pariwisata yang Siap yang Bersaing

Bali merupakan salah satu destinasi pariwisata yang Berada di Indonesia, bali merupakan pulau kecil yang terletak di sebelah pulau jawa namun sangat terkenal di dunia hal ini di karenakan indahnya alam Bali, budayanya yang unik, kuliner wisata dan lain lain yang berbeda dari negara lain. Siapa yang tidak tahu bali?? Semua negara mengetahui pulau Bali apalagi di jaman globalisasi ini dimana internet merupakan pusat segalanya, apapun yang ingin kita tahu, apapun yang kita butuhkan hampjr semua bisa disediakan oleh internet ini. Seiring dengan perkembangan jaman kita haruslah mengikuti arus perkembangan ini, dikarenakan jika kita diam dan tidak melakukan apa apa maka kita akan tenggelam seiring berjalannya waktu.

Hal ini lah yang harus disiapkan sedari dini atau sedari sekarang seperti menyiapkan sumber daya alamnya, menjaganya, melestarikannya dan lain lain. Selain itu sumber daya manusianya harus dinaikkan kualitasnya pasalnya jika suatu negara atau suatu pulau ingin berkembang hal itu haruslah dimulai dari bagusnya kualitas sumber daya manusianya. Hal seperti ini bisa dimulai dari melakukan penyuluhan atau meningkatkan kinerja kinerja para pekerja dengan mulai mengenalkan teknologi kepada mereka.

Bali merupakan salah satu pulau yang sudah siap untuk menghadapi globalisasi pasalnya pulau ini selalu banyak didatangi para wisatawan entah itu domestik maupun internasional, saat para wisatawan tersebut datang pastilah mereka datang dengan membawa kebudayaan baru, teknologi baru dan lain sebagainya, mau tidak mau masyarakat Bali haruah bisa menyesuaikan diri dan menyesuaikan kinerja mereka dengan apa yang dibutuhkan oleh para wisatawan tersebut.

Namun disisi lain masyarakat di Bali harus tetap siap menyaring kebudayaan kebudayaan asing yang masuk ke Bali pasalnya kebudayaan yang telah tertanam di Bali sejak dulu haruslah tetap di jaga tidak boleh di lupakan apalagi dihilangkan, kebudayaan yang Bali miliki haruslah di lestarikan agar tidak termakan oleh zaman globalisasi ini. Namun secara umum dan kasat mata Pulau Bali adalah salah satu pulau yang sudah siap menghadapi era baru di depan mata terutama dilihat dari destinasi pariwisatanya yang sudah tidak perlu di ragukma lagi keindahannya.

Pertemuan IMF yang di lakukan di Bali sendiri merupakan bukti yang sangat kuat jika Pulau Bali sudah sangat siap dalam bergabung dengan era baru yakni era globalisasi, dalam pertemuan itu sedikit tidaknya dapat kita simpulkan bahwa Pulau Bali memanglah pulau yang sangat ingin dikunjungi wisatawan dunia bahkan event internasional yang sangat penting tersebut di lakukan di Pulau ini maka bisa tidak diragukan lagi bagaimana Pulau ini di mata dunia. Selain itu Bali juga memiliki tempat tempat yang sudah diakui oleh dunia dengan keindahannya, seperti Penglipuran. Penglipuran bali terkenal dengfan udara yang bersih di Dunia. Desa ini terletak di jalur wisata Kintamani, sekitar 5 kilometer dari Kota Bangli, dan 45 kilometer dari Kota Denpasar. Damai dan bersih, itulah kesan pertama ketika menginjaki kaki di Penglipuran. Bahkan, saking bersihnya, pengunjung tidak diperkenankan memarkir kendaraan di dalam area desa.

Suasana desa yang bersih dan jauh dari modernisasi menjadikan Penglipuran menjadi desa terbersih ke-3 dunia versi majalah internasional Boombastic, setelah Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda. Penghargaan tersebut membuat desa Penglipuran semakin dikenal luas, bukan hanya terkenal oleh masyarakat Indonesia, tetapi juga dikenal hingga ke mancanegara. Bahkan diawal penetapan Penglipuran sebagai desa wisata, turis asinglah yang berbondong-bondong memadati Desa Penglipuran. 

Tahun 1995, Penglipuran menjadi contoh pertama kali bentuk desa wisata di Indonesia. Desa Penglipuran juga pernah mendapat penghargaan Kalpataru. Kalpataru sendiri merupakan sebuah penghargaan yang diberikan atas jasanya untuk melestarikan dan menjaga lingkungan sekitar di Indonesia.

Konon, Desa Penglipuran sudah ada sejak zaman Kerajaan Bangli. Di mana para leluhur penduduk Desa Penglipuran datang dari Desa Bayung Gede, lalu menetap hingga saat ini. Menurut mitologi, Penglipuran berasal dari kata Pengeling Pura yang artinya adalah ‘mengingat leluhur’. Sedangkan penafsiran lain kata Penglipuran berasal dari kata ‘pelipur lara’ dan ada pula yang mengatakan Penglipuran berasal dari kata ‘pangleng’ dan ‘pura’ yang berarti empat kuil yang berada di setiap titik dari kompas.

Arsitektur rumah-rumah yang ada di Penglipuran mirip satu sama lain, dengan ukuran yang sama persis, setiap rumah memiliki sebuah pintu gerbang yang disebut dengan ‘angkul-angkul’. Kurang lebih ada 985 jiwa dalam 234 kepala keluarga yang tersebar di desa wisata ini.

Keseluruhan luas desa wisata ini adalah 112 hektar yang sebagian besarnya merupakan hutan bambu, seluas 45 hektar. Hutan bambu tersebut dibiarkan tumbuh dan mengelilingi desa, menjadikannya sebagai kawasan resapan. Bambu yang dibiarkan tumbuh juga dinilai sebagai manifestasi masyarakat Penglipuran untuk terus menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started